Ramadhan kali ini adalah Ramadhan kedua, dan Ramadhan terakhir aku bisa di dekatnya.
Kehadirannya membuat banyak perbedaan, aku selalu merasa bersemangat menjalani Ramadhanku. Kupakai baju terbaikku, kukalungkan sorban yang baru kubeli, kusemprotkan minyak wangi. tapi tetap kutata niat dalam hati, bahwa kulakukan semua ini hanya untuk menjalankan sunah Nabi.
“Sebentar lagi lewat” Gumamku.
Aku mengamati suara langkah kaki di lorong samping rumahku, karena Fika pasti melewatinya saat akan ke masjid untuk menjalankan sholat tarawih.
“Itu suara langkah kakinya” Kataku dengan semangat.
Aku hafal betul suara derap langkahnya, karena aku selalu mendengarnya hampir tiap hari, baik saat pergi ataupun pulang dari sekolah aku selalu memperhatikannya.
Aku bergegas keluar agar berpapasan saat dia melewati depan rumahku.
“Subhanalloh” Pujiku dalam hati.
Seorang bidadari berjilbab, tersenyum padaku
“Assalamu’alaikum” Sapa Fika.
“Wa..wa..wa’alaikum salam” Jawabku dengan gugup.
Aku menundukkan kepala, tak pernah sanggup aku menatap matanya lebih dari lima detik, itu pun kulakukan hanya karena ingin meghormatinya. kupercepat langkahku untuk mendahuluinya, aku tak mau syaitan mengotori kekagumanku saat berada di belakangnya. Setiap kali aku mengingatnya aku berdo’a.
“Ya Alloh ya Robb, engkau yang menyelipkan cinta ini di hati hamba, namun hamba tak pernah ingin menjadikannya pacar hamba, hamba hanya ingin dia halal untuk hamba”
Home » All posts
Senin, 25 Oktober 2010
aku tahu rasanya, jadi diamlah
kenapa harus seperti ini
membosankan
apa ini yang kau suka? tapi maaf, aku nggak suka
kenapa selalu, selalu dan selalu menuntut
apa tak ada hal lain yang kau bisa
memang apa yang pernah kau ajarkan padaku
hingga aku kau suruh menjadi sempurna
apa itu cara yag benar
atau hanya kau saja yang menganggapnya benar
kalau kau anggap benar
mengapa bukan kau saja yang melakukan
hai burung !!!!
diam kau
tak usah kau mengeluh pada ku
aku tahu rasanya di dalam sana
tak bisa terbang
menghirup udara yang berhembus kencang
membelah udara ketinggian
lalu menukik tajam
aku tahu itu pasti menyenangkan
aku tahu apa yang kau rasakan di dalam sana
jadi berhentilah berkicau
dan mengeluh pada ku
kenapa harus ada sangkar
untuk apa
apa agar kau bisa melihatnya setiap saat
kapan saja kau mau
apa kau senang, apa kau benar-benar senang
melihatnya berkicau muram tanpa bisa terbang
bukankah lebih menyenangkan
melihatnya melompat kegirangan
dari dahan ke dahan
dalam setiap kicauan yang kau dengar
meski itu hanya dari kejauhan
Hai singa !!!!!
apa yang kau lakukan kandang sana
bisa diam tidak
tak usah kau mengaum di telingaku
aku tahu rasanya di dalam sana
bukankah kau seorang raja hutan
harusnya kau ada di luar sana
dalam pekatnya hutan rimba
mengaum dengan bangga
di atas tahta raja belantara
jadi diamlah
berhentilah mengaum
merengek di telingaku
karena aku tahu
benar-benar tahu
bagaimana ada di dalam sana
25 agustus 2010
01:23 wib
membosankan
apa ini yang kau suka? tapi maaf, aku nggak suka
kenapa selalu, selalu dan selalu menuntut
apa tak ada hal lain yang kau bisa
memang apa yang pernah kau ajarkan padaku
hingga aku kau suruh menjadi sempurna
apa itu cara yag benar
atau hanya kau saja yang menganggapnya benar
kalau kau anggap benar
mengapa bukan kau saja yang melakukan
hai burung !!!!
diam kau
tak usah kau mengeluh pada ku
aku tahu rasanya di dalam sana
tak bisa terbang
menghirup udara yang berhembus kencang
membelah udara ketinggian
lalu menukik tajam
aku tahu itu pasti menyenangkan
aku tahu apa yang kau rasakan di dalam sana
jadi berhentilah berkicau
dan mengeluh pada ku
kenapa harus ada sangkar
untuk apa
apa agar kau bisa melihatnya setiap saat
kapan saja kau mau
apa kau senang, apa kau benar-benar senang
melihatnya berkicau muram tanpa bisa terbang
bukankah lebih menyenangkan
melihatnya melompat kegirangan
dari dahan ke dahan
dalam setiap kicauan yang kau dengar
meski itu hanya dari kejauhan
Hai singa !!!!!
apa yang kau lakukan kandang sana
bisa diam tidak
tak usah kau mengaum di telingaku
aku tahu rasanya di dalam sana
bukankah kau seorang raja hutan
harusnya kau ada di luar sana
dalam pekatnya hutan rimba
mengaum dengan bangga
di atas tahta raja belantara
jadi diamlah
berhentilah mengaum
merengek di telingaku
karena aku tahu
benar-benar tahu
bagaimana ada di dalam sana
25 agustus 2010
01:23 wib
Pesta-NYA
Udara ini terasa berbeda, tak seperti biasanya, terasa begitu nyaman jauh dari dinginnya keangkuhan, jauh dari pengapnya kesombongan, begitu hening, menentramkan setiap sendi-sendi yang biasanya berbalut kejenuhan.
Kutelusuri aliran udara ini. Kuhirup sepuasnya, sambil terus berjalan, mencari apa yang sebenarnya membuat udara ini berbeda.
Di sela-sela kenikmatan ini, kutengadahkan kepalaku dengan memejamkan mata, dan akhirnya, saat ku membuka mata, kutemukan apa yang membuat malam ini terasa berbeda. Langit itu, iya langit di atas sana sedang berpesta. Bintang-bintang yang tak seperti biasanya, lebih banyak dari biasanya, lebih terang dari biasanya, bahkan ada yang berlari-larian, persis seperti puluhan anak kecil yang sedang bermain kejar- kejaran. Planet Venus yang biasanya jarang menampakkan cahaya putihnya, bersinar terang tak mau kalah dengan bintang-bintang.
Planet Mars yang biasanya terlihat samar, tak ragu menyala dengan bangga dalam balutan warna kuning keemasan miliknya.
Langit begitu terang, menyambut alunan tasbih yang menggema dari sudut-sudut bumi yang berseru memuji untuk-NYA.
Tak akan ada yang percaya dengan apa yang kulihat ini, tapi aku benar-benar melihatnya, seperti sedang ada perayaan besar, sebuah perayaan pengantin semesta yang takkan pernah aku lupakan, sebuah perayaan di sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, yang kusaksikan di tengah-tengah luasnya halaman sekolahku, belasan tahun yang lalu. Saat aku belum mampu mengerti, dan melukiskannya dengan kata-kata. Hanya bisa terdiam, terpana, dan menikmati pesta-NYA, yang entah kapan aku bisa kembali melihatnya.
Kutelusuri aliran udara ini. Kuhirup sepuasnya, sambil terus berjalan, mencari apa yang sebenarnya membuat udara ini berbeda.
Di sela-sela kenikmatan ini, kutengadahkan kepalaku dengan memejamkan mata, dan akhirnya, saat ku membuka mata, kutemukan apa yang membuat malam ini terasa berbeda. Langit itu, iya langit di atas sana sedang berpesta. Bintang-bintang yang tak seperti biasanya, lebih banyak dari biasanya, lebih terang dari biasanya, bahkan ada yang berlari-larian, persis seperti puluhan anak kecil yang sedang bermain kejar- kejaran. Planet Venus yang biasanya jarang menampakkan cahaya putihnya, bersinar terang tak mau kalah dengan bintang-bintang.
Planet Mars yang biasanya terlihat samar, tak ragu menyala dengan bangga dalam balutan warna kuning keemasan miliknya.
Langit begitu terang, menyambut alunan tasbih yang menggema dari sudut-sudut bumi yang berseru memuji untuk-NYA.
Tak akan ada yang percaya dengan apa yang kulihat ini, tapi aku benar-benar melihatnya, seperti sedang ada perayaan besar, sebuah perayaan pengantin semesta yang takkan pernah aku lupakan, sebuah perayaan di sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, yang kusaksikan di tengah-tengah luasnya halaman sekolahku, belasan tahun yang lalu. Saat aku belum mampu mengerti, dan melukiskannya dengan kata-kata. Hanya bisa terdiam, terpana, dan menikmati pesta-NYA, yang entah kapan aku bisa kembali melihatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)