Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

Biarkan aku

Suaramu menyusup di antara diamnya malam
Hingga sampai di telingaku
Harum tubuhmu mencegat angin
Mengalir, hingga tercium olehku

Kau tak pernah sudi menatapku
Atau hanya sekedar melintas di hadapanku
Kau hanya kirimkan cinta
Yang membelai setiap mimpi-mimpiku

Ku bertanya pada setiap rindang tepi jalan
Tiap riuh tiang jembatan
Hanya kebisuan daun yang berguguran
Dan buyar hantaman air yang ku dapatkan

Beritahu aku di mana ku harus menemukanmu
Apakah aku harus memecah semua batu dengan palu
Atau membuat setiap kayu jadi abu
Agar angin menyerah dan memberi tahu aku

Tega kau pada angin
Tak kasihan kau dengan batu
Tak iba kah kau dengan kayu
Jadi biarkan aku menemukanmu

oleh Denis el muharrom
29 04 2011


Senin, 21 Februari 2011

woy.... para punggawa-punggawa merah putih, tunjukkan nyalimu

Hay para pemuda
Pewaris semangat juang 45
Darah merah sang pemberani
Putih suci dalam hati
Sampai kapan kalian akan seperti ini
Terjajah
Terhina
Oleh para pewaris iblis
Yang tak tau malu
Menjajah tanah air sendiri
Saatnya kita bangkit
Tunjukkan nyalimu
Angkat tanganmu tinggi-tinggi
Genggam dunia dalam kepalanmu
Kobarkan semangatmu
Lantangkan suaramu
Dan kini saatnya
Dengan bangga
Kita teriakkan bersama-sama

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Senin, 25 Oktober 2010

aku tahu rasanya, jadi diamlah

kenapa harus seperti ini
membosankan
apa ini yang kau suka? tapi maaf, aku nggak suka
kenapa selalu, selalu dan selalu menuntut
apa tak ada hal lain yang kau bisa
memang apa yang pernah kau ajarkan padaku
hingga aku kau suruh menjadi sempurna
apa itu cara yag benar
atau hanya kau saja yang menganggapnya benar
kalau kau anggap benar
mengapa bukan kau saja yang melakukan

hai burung !!!!
diam kau
tak usah kau mengeluh pada ku
aku tahu rasanya di dalam sana
tak bisa terbang
menghirup udara yang berhembus kencang
membelah udara ketinggian
lalu menukik tajam
aku tahu itu pasti menyenangkan
aku tahu apa yang kau rasakan di dalam sana
jadi berhentilah berkicau
dan mengeluh pada ku

kenapa harus ada sangkar
untuk apa
apa agar kau bisa melihatnya setiap saat
kapan saja kau mau
apa kau senang, apa kau benar-benar senang
melihatnya berkicau muram tanpa bisa terbang
bukankah lebih menyenangkan
melihatnya melompat kegirangan
dari dahan ke dahan
dalam setiap kicauan yang kau dengar
meski itu hanya dari kejauhan

Hai singa !!!!!
apa yang kau lakukan kandang sana
bisa diam tidak
tak usah kau mengaum di telingaku
aku tahu rasanya di dalam sana
bukankah kau seorang raja hutan
harusnya kau ada di luar sana
dalam pekatnya hutan rimba
mengaum dengan bangga
di atas tahta raja belantara
jadi diamlah
berhentilah mengaum
merengek di telingaku
karena aku tahu
benar-benar tahu
bagaimana ada di dalam sana

25 agustus 2010
01:23 wib

Sebatas sujud hamba

Sebatas sujud hamba
Denis el-muharrom

Nafas ini

Kunikmati

Dalam belaian kasih sayang
Yang tak pernah terbatasi

Tuhanku

Maafkan aku

Hanya sebatas ini
Yang mampu hamba persembahkan

Untuk kasih sayang
Yang takkan pernah mampu hamba lunasi

Sebatas sujud hamba
Dengan sedikit tetes air mata
Dalam do'a
Memohon ampun
Atas segala dosa

Selasa, 20 Juli 2010

Cermin tua, penuh sarang laba-laba

Kakiku melangkah pelan, di antara riuh kegelapan
Yang masih tatap berjuang, mengalahkan cahaya muram
Aku terhenti, kulihat bayangan di cermin
Yang membuatku sedikit berfikir, “Sepertinya, wajah itu tak asing denganku.”

Kudekati, kulangkahkan kaki, pelan sekali
Sekeras hati kucoba mengingatnya, kupaksa bekerja isi kepala
Tapi percuma, tak sedikit pun aku bisa mengingatnya
Tapi aku yakin, aku benar-benar pernah melihatnya

Kupandangi wajah itu, kucoba mengenalnya
Tapi, ku berhenti, kupalingkan wajahku, aku tak ingin melihatnya
Pemalas. Iya, wajah seorang pemalas
Yang tak mau mencoba, karena takut selalu berhasil mengalahkannya

Kulangkahkan kaki lagi, menjauh, memecah keheningan hati
Kulewati kursi-kursi tua, yang kurasa aku pernah berlari-lari mengelilinginya
Aku tersenyum, karena bisa sedikit mengingatnya
Sampai kulihat di ujung ruangan, di antara lemari tua

Siapa lagi itu, ku dekati sedikit berlari
Cermin tua, penuh sarang laba-laba
Wajah siapa lagi ini, sepertinya aku pun mengenalnya
Ku ingat lagi, tapi lagi-lagi aku tak menemukannya

Kubuang muka, aku berhenti mengingatnya
Wajah itu menggangguku
Bodoh, wajah orang bodoh
Yang menganggap dirinya mahluk paling pintar, tapi mudah sekali di bodohi
Lagi, dan lagi, sungguh bodoh sekali

Ku tinggalkan cermin tua yang penuh sarang laba-laba
Kembali kulangkahkan kaki,sedikit agak berlari
Tapi kaki ini berat, berat sekali
Wajah itu, wajah di cermin itu, aku pernah melihatnya

Ku berlari kembali, di mana bayangan-bayangan itu berada
Bayangan di cermin pertama, bayangan di cermin tua penuh sarang laba-laba
Ku dekati lagi, ku pandangi lagi
Tak butuh waktu lama , memang benar aku pernah melihatnya

Aku tersenyum lama, menggelikan sekali, bahkan sampai tertawa
Aku sudah mengingatnya
Bukankah bayangan di cermin itu adalah aku
Aku yakin itu adalah aku

.....juli 2010

Minggu, 11 April 2010

bad...

Hari ini kepala sedang bingung
Jari-jari bimbang tak mau diam
Hati gundah dalam lamunannya
Bertengkar saling menyalahkan

“Apa kau tidak bisa diam sedikit” kata kepala yang kesal melihat tingkah jari-jari.
“Bagaimana awak bisa diam, sudah lama awak tidak menulis sesuatu” Timpal jari-jari dengan logat melayu..
‘Apa kau tidak bisa sedikit saja memikirkan sesuatu ,yang bisa aku tulis barang sepatah dua patah kata..
“Apa kamu tidak tahu aku sedang pusing, terlalu banyak masalah, mana sempat aku memikirkan sajak dan kata-kata mutiara”
“Macam orang penting saja kau ni, paling-paling hanya masalah uang yang kau pikirkan”
“Sudahlah jangan ganggu aku, coba saja Tanya sama hati, sepertinya dia butuh pelampiasan” Kepala mencoba mengalihkan perhatian perhatian jari-jari yang terus mengganggunya.
“Hai kau, kenapa murung kali tampang kau ni, cobalah katakana sama awak, mungkin awak bisa Bantu meringankan beban kau tu,,”
“Loro atiku, bagaimana aku bisa cerito nang koe, aku nggak seneng nulis kesedihan ku”jawab hati dengan logat jawa medo’ nya.
“Macam mana kalian ni, bagaimana awak bisa diam kalo tak ada yang bisa Bantu awak”

Kepala yang masih berputar-putar
Seperti pusaran air
Tak berhenti
Ingin meledak rasanya
Jari-jari yang melompat-lompat
Berlari-lari
Menari-nari
Kekanan
Kekiri
Depan
Belakang
Seperti berdiri di atas bara api
Yang tak mungkin berdiam diri lama-lama
Dan kalian pasti tau rasanya
Hati yang tak mampu tertawa seperti biasa
Yang begitu bersemangat bercerita
Sampai-sampai jari-jari kelelahan karenanya
Kepala yang terpaksa mengalah
Dan hanya bisa diam mencerna setiap kata-kata
Tapi hari ini
Kepala tak seperti biasanya
Jari-jari tak seperti biasanya
Hatipun tak seperti bisanya

Selasa, 27 Oktober 2009

Semangat Itu


SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :

- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928


Kurindukan semangat itu
Yang mulai pudar dari bangsaku

Kurindukan semangat itu
Yang mulai luntur Dalam dada putra bangsakau

Kurindukan seruan itu
Saat bangsa ini membutuhkan putranya
Mereka saling lempar batu tanpa malu
Yang seharusnya bahu-membahu saling membantu

Kurindukan semangat itu
Karena harapanku, harapan bangsaku
Kuletakkan di atas bahu mereka
Karena kesempatan telah memilih mereka

Kurindukan semangat itu
Yang membuatku bangga menjadi putra Indonesia

Malang, 28 oktober 2009

Selasa, 29 September 2009

Air mataku

Orang bilang
air mata adalah kelemahan
Maka aku mencoba menahan air mata ini
Kini aku tak menangis lagi
menahannya sekuat hati
Kecuali empat hal

Aku menangis
Saat nama tuhanku Alloh
di kumandangkan dengan merdu nya
menggema di setip sudut dunia
karena aku malu pada-Nya
yang memberikan nyawa ini padaku
yang memberi kesempatan
untuk bisa menikmati surga-Nya
dan aku menyia-nyiakan nya

Aku menangis
saat nama nabiku Muhammad SAW
di ucapkan dengan indahnya
karena aku malu padanya
yang memgberikan kedamaian
yang memberikan tuntunan
yang menunjukkan jalan kebenaran
dan aku mengecewakan nya

Aku menangis
saat aku melihat air mata
mengalir di antara kesedihan ibuku
yang memberikan ketulusan kasih sayang
yang memberikan pengorbanan
tanpa lelah
mendo'akan kebaikan
dan aku belum bisa
membuat senyum di wajahnya
membahagiakannya

Aku menangis
saat nama bangsaku indonesia
di teriakkan dengan gagah perkasa
yang memberikan aku kebanggaan
dan aku belum mampu
berbuat apa-apa
untuk bangsaku

...... september 2009

Minggu, 20 September 2009

Yang Mana?


Hai kau !
Yang mana kau sebut dengan kemakmuran
Apakah ratusan tubuh berserakan di bawah jembatan
Tubuh rapuh
tubuh mungil menjadi satu
Yang tak pernah lagi berharap
Karena lelah
Mencoba meninggalkan gelap
Yang mana kau sebut dengan kemakmuran
Apakah ribuan anak-anak yang berdiri berlari
Di perempatan jalan
Di bawah lampu merah yang mendapat giliran
Yang mana yang kau sebut kemakmuran
Apakah kekayaan yang kau dapatkan
Apakah kedudukan yang kau banggakan
Yang aku yakin tidak terlalu kau butuhkan
Dan tidak selalu menyenangkan
Apakah itu yang kau sebut kemakmuran?
jawabannya
Bukan !!!!!!!!!!
Tapi itu adalah penghianatan
Penghianatan yang memalukan
12 Agustus 2009

Tak Pernah Mati


Suaramu menggema
Meraba sela-sela hati yang duka
Hati yang kecewa tanpa suara
Menyulutkan api lentera
Yang mati tertiup kuasa

Kau berdiri tegak
Mendongak busungkan dada
Menembus benteng kuasa hina
Dengan setetes peluru tinta

Boleh saja awan putih berganti debu
Matahari redup tak lagi bercahaya
Meninggalkan semua yang bukan segalanya
Tapi semangatmu akan terus membara
Di balik dinding tubuh para pemuda
Yang akan mengangkat panji-panji
Untuk membawa negara ini merdeka
Dari jajahan anak bangsa sendiri
Yang tak tahu hati nurani

Kau boleh mati har ini
Kau boleh pergi tak kembali
Tapi semangatmu
Akan terus ada dalam dada
Hingga nyawa tak lagi
Berdiri di antara raga ini

07 Agustus 2009

Bosan..!


Bosan....!
Kata itu akhirnya keluar
Bahasa kemarahan dari alam
Jenuh....!
Suara itu akhirnya menggema
Memenuhi setiap sudut bola bumi
Yang tak bisa lagi di bungkam
Dewi air yang mulai terusik
Karena kesuciannya di nodai
Dewa bumi yang mulai marah
Karena bulunya di cabuti tanpa sisa
Dan raja udara yang sudah muak
Karena paru-parunya di racuni
Mereka sudah tak bisa menahan emosi
Karena telah tertindas oleh keegoisan
Yang membuat mereka terhina
Dan merasa ter jajah tanpa henti
Dan akhirnya....!
Burung besi dilahap tanpa sisa
Ikan mati di telan tanpa rupa
Dan perut bumi di muntah kan tanpa henti
Belum cukupkah kekuatan yang mereka tunjukkan
belum bisakah semua itu menjarakan hati kita
Bahwa begitu kecilnya kita di hadapan mereka
Yang akan segera pergi tanpa dunia
13 maret 2007

Sajak Alfabet

Aku mulai lelah
Berlari dalam hati
Cinta yang tak pernah mengalah
Dalam waktu yang tak pernah berubah
Egois ini terus memaksa
Fikiran yang tak mau meminta
Gambaran yang selalu tak terasa
Hari ini masih sama
Indah yang tak mau pergi
Jika aku menginginkannya
Kembali tanpa ragu
Laksana angin yang berhembus
Memecah kesunyian abadi
Namun tak mungkin
Orang memuji
Permintaan yang tak membuat
Quantum menjadi tak mampu
Rasakan dirinya sendiri
Sampai ia mati
Tanpa ada kata-katu
Untuk membuktikan
Variasi mimpi-mimpi
Waktu yang akan menjadikan
X-treame terasa biasa
Yang tak mungkin sama
Zaman yang mungkin berbeda

Hujan Malam


Air jatuh membentur tanah
berjalan tanpa kaki
yang tak mungkin berhenti
membawa tanah merah
yang tak lagi berdiri

gelap yang terbakar
mencoba menari-nari
mencari bayangan
yang tak lagi hitam
semua riuh terus melantang
membunuh suara penjaga malam
seperti nyanyian kegelapan
yang tak rela tanpa bayangan
sinar lampu jalan yang terang
membentuk garis melebar
seperti shower raksasa
yang memandikan anak gorila
langit tak mau mengalah
menembaki bumi yang tak mau menyerah
melubanginya dan membuat bingung isinya
semua berlari tanpa permisi
menabrakkan diri yang tak mau peduli
karena buta tak mau pergi
kaki-kaki kaki-kaki berjalan
sayap-sayap sayap-sayap di terbang kan
mencari cahaya mengeringkan raga
meski tak begitu bisa
hanya agar terlihat tegar
tak kalah oleh air hujan

...may 2009

Tak Mampu




Ya Alloh.... Ya Robb....
alangkahindahnya hidup ku
bila tak harus mengucap Astaghfirulloh di hati ku
dan hanya Subhanalloh memuji-Mu
Ya Alloh... Ya Robb...
alangkah bahagianya hatiku
bila tak harus mengucap Astaghfirulloh di hati ku
dan hanya Alhamdulillah bersyukur pada-Mu
Ya Alloh... Ya Robb...
alangkah beruntung nya diriku
bila tak harus mengucap Astaghfirulloh di hatiku
dan hanya Allohuakbar mengagungkan-Mu
tapi mungkinkah semua itu
karena hamba terlalu hina
dan dosa ini begitu banyak nya
membuat hati ini tak pernah mampu
berhenti beristighfar pada-Mu
....april 2009

Terkapar


setitik warna merah putih terlihat samar
bergerak bersama seperti kunang-kunang
ringan di antara hijau belukar
ke atas dan sesekali turun lagi
makin lama titik-titik itu semakin membesar
menghilangkan bentuk samar dari kejauhan
yang tak lagi benar dua warna keluar
tapi tiga warna hitam kecokelatan yang ku sadar
terus bergarak pelan memecah hijau lautan
yang meninggi tegak menyentuh awan
meski sudah tak sesamar tadi
tapi tetep tak terlihat meyakinkan
aku duduk dengan kaki kutekuk
menunggu jalas dari balik ragu
yang mulai hilang lagi
dan terhalang putih tak berabu
butir-butir mutiara alam jatuh menyimbah
mulai rapat dari sekat-sekat
membuat merh putih tak tersadar
dan mulai menghilang lebih dalam
langit mulai tersenyum lagi
menyibak kelopak kegelapan
yang hentikan air tangisan
dan benar membuat semua pudar
hey....!!!! itu merah putih benar
mulai mendekat dan membesar
dalam balut air tawar
agak terlihat begitu gusar
putih yang tak begitu putih
bercampur pekat warna tanah
merah yang tak yakin merah
pudar berputih akar
angin bertiup tersengal-sengal
membawa air putih kental
dan tanduk berimbun tajam
jatuh menimpa aral
aku melangkah memastikan
yang kulihat dari kejauhan
ternyata pencari kayu bakar
yang kelelahandan kehujanan
dengan kaus warna putih pudar
dan celana pendek merah memar
menyebut nama kehausan
dan mulai terkapar bundar

coban pelangi ....juni 2006

GAZA



akutak yakin mereka manusia
yang menyaksikan kematian dengan tertawa
yang menyaksikan kehancuran dengan gembira
seolah sedang menyksikan film kartun lucu
yang berlari-lari memukul dengan palu
aku tak yakin mereka manusia
sampai hatinya menyaksikan tangis air mata
seorang ibu yang kehilangan putranya
seorang anak kehilangan orang tua nya
yang berjalan merangkak tak berdaya
aku tak yakin mereka manusia
yang bertepuk tangan kegirangan
melihat roket berjatuhan di malam hari
seolah sedang menyksikan pesta kembang api
di malam tahun baru yang basi
tak punya hatikah mereka
yang tega melihat saudaranya menderita
merangkak tanpa kaki
bahkan mati tertimpa bata
tak punya otakkah mereka
yang menganggap
palestina bukan manusia
padahal merekalah yang tak pantas menjadi manusia
ibliskah mereka semua
atau setankah yang sebenarnya
yang jalas salah satunya
karena aku takpernah yakin
bahwa israel adalah
manusia

19-03-09
14:45 wib

Merekalah Yang mengerti


kaki itu berjalan
tegap di atas bebatuan
seolah-olah tak ada beban

tangan itu mendekap seikat kayu kering
seolah tak menghiraukan

sebuah senyuman saling menyapa
senyuman yang penuh dengan kejujuran

yang membuat mereka menikmati
apa itu sebuah kesederhanaan hati
sebenarnya merekalah yang mengerti

tentang kebahagiaan sejati
bukan dengan uang atau kedudukan
tapi bahagia dengan kebarsamaan
coban pelangi
..........2008
alde muhar

Subuhku



subuhku subuh pertamaku
setelah sekian lama tak bertemu
akhirnya aku bisa berjabat kembali dengan subuh ku
begitu indahnya langit subuhku
bintang-bintang menari riang
bukan di malam ataupun petang
tapi disaat subuhku berkumandang
bagitu segarnya udara subuhku
udara surga yang terbayang kan
membuat hati ini tenang
saat kuhirup wanginya subuhku
selamat datang wahai subuhku
wahai subuhku yang ku rindu
jangan pernah tinggalkan hariku
karena di subuhku Yang Maha Esa membari rahmatnya
.....2006
alde muhar

Kimia kehidupan



ion-ion
kebencian merasuk jiwa

hati terhempas bingung kan semua
anoda katoda saling
memaksa

asamkan hati basakan jiwa
keinginan hati yang
tereduksi

melepas elektron tiada
henti

selalu membayangi periode usia
osmotik jiwa selalu ada
endoterm cinta di dalam
hati

eksoterm nafsu terbang
melayang

periodik kasta pisahkan
manusia

golongan mulia yang berjaya
atom-atom kemunafikan terserap
jiwa

tiada indikator yang menyatukan
nya

terhidrolisis tiada rupa
oksigen keserakahan bercampur
di udara

terhirup masuk butakan jiwa
radioaktif menusuk
jiwa

alfa
gama
selesaikan nyawa
.......may 2006
alde muhar

Tentang kegagalan

sering kali kegagalan
menjadikan penyesalan
yang mengarahkan kita pada keterpurukan
dan membuat hidup kita terasa berakhir
yang sebenarnya tidak demikian
tapi tergantung sikap kita terhadapnya
mengarahkan kemana kegagalan itu
dan membuat bagaimana kegagalan itu
tapi
kadang penyesalan itu di perlukan
agar kegagalan tak lagi terulang
kita hanya harus menanamkan keyakinan
bahwa
kegagalan adalah jalan menuju keberhasilan
ALLOH maha tau apa yang terbaik untuk kita
dan keberhasilan yang indah
akan datang pada waktu dan tempat
yang tepat
....april 2009
alde muhar