Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

Gayus Tambun si kantong udara (FIKSIfoto Edisi II By Leutika Publisher)

“Ma, kita nikmati hari terakhir kita di sini.” Kata Gayus kepada istrinya
“Kenapa pa?” kata istrinya dengan muka agak cemas.
“Besok kita akan pindah tempat persembunyian, jejak kita telah tercium.”

setelah itu Gayus langsung melompat ke dalam kolam dengan gaya  ala perenang professional.
Setelah beberapa detik menyelam, Gayus keluar dari dalam air, dia mengedarkan pandanganya kesekeliling kolam renang tampak bingung, seperti sedang mencari sesuatu.
Istri gayus pun masuk ke air dan mendekati gayus. Tapi belum sempat mendekat gayus menyuruhnya berhenti.

“Stop ma!!” kata gayus memperingatkan.

Di kejauhan gayus melihat beberapa polisi berpakain lengkap dengan menenteng senjata laras panjang mulai mendekat.

 “Ada Polisi datang”
“Wah hebat papa, sudah tau akan ada Polisi, ayo pa kita lari”
“Udah gag sempat ma, sembunyi!!”

Istri Gayus langsung berenang menuju tanaman hias yang cukup rimbun di tepi kolam dekatnya, Sedang Gayus masih kebingunagan karena tak mungkin sampai kesana juga. Akhirnya Gayus menarik nafas panjang dan memutuskan untuk menyelam.

Polisi tiba dan berkeliling di sekitar kolam mencari sosok Gayus, tapi tak tampak batang hidungnya. Sedangkan Gayus mencengram erat lubang pembuangan air di dasar kolam agar tubuhnya tak terangkat keluar, Gayus sedikit beruntung, karena kolam cukup dalam, sehingga penglihatan tak begitu jelas hingga kedasar kolam.

“Lapor pak, buronan tidak di temukan” kata seorang anggota Polisi kepada atasannya.
 “Kita cari di tempat lain”

Beberapa langkah saat polisi akan meninggalkan lokasi terdengar bunyi gelembung udara dari arah kolam, yang membuat semua anggota Polisi membalikkan badan.
Tampak Gayus yang sedang kehabisan nafas.

“Ternyata perut saya belum cukup besar untuk menampung banyak oksigen” kata gayus, yang membuat komandan tersenyum
“Angkat tangan, cepat naik” kata seorang petugas dengan mengacungkan senjata kearah gayus, namun gayus tetap bergeming.
“Cepat naik, taruh tangan di atas kepala”
“Bukannya saya tidak mau naik pak, tapi!!”
“Tapi apa?”

Dengan perlahan Gayus naik ke atas kolam dan semua petugas hanya terdiam menahan tawa.

“Papa!!” Teriak istri Gayus yang menarik perhatian semua mata ke arahnya.
“Jadi papa tadi bingung bukan karena tahu akan ada polisi datang?”
“Bukan ma, tapi nyari celana papa yang lepas waktu nyebur tadi.” Kata Gayus dengan tersenyum lebar kearah istrinya.

--------------------------------------------------------------------------------------------
"fiksifoto, cara baru dalam bercerpen-ria"


Senin, 25 Oktober 2010

Do’a cinta

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan kedua, dan Ramadhan terakhir aku bisa di dekatnya.

Kehadirannya membuat banyak perbedaan, aku selalu merasa bersemangat menjalani Ramadhanku. Kupakai baju terbaikku, kukalungkan sorban yang baru kubeli, kusemprotkan minyak wangi. tapi tetap kutata niat dalam hati, bahwa kulakukan semua ini hanya untuk menjalankan sunah Nabi.

“Sebentar lagi lewat” Gumamku.

Aku mengamati suara langkah kaki di lorong samping rumahku, karena Fika pasti melewatinya saat akan ke masjid untuk menjalankan sholat tarawih.

“Itu suara langkah kakinya” Kataku dengan semangat.

Aku hafal betul suara derap langkahnya, karena aku selalu mendengarnya hampir tiap hari, baik saat pergi ataupun pulang dari sekolah aku selalu memperhatikannya.
Aku bergegas keluar agar berpapasan saat dia melewati depan rumahku.
“Subhanalloh” Pujiku dalam hati.
Seorang bidadari berjilbab, tersenyum padaku
“Assalamu’alaikum” Sapa Fika.
“Wa..wa..wa’alaikum salam” Jawabku dengan gugup.
Aku menundukkan kepala, tak pernah sanggup aku menatap matanya lebih dari lima detik, itu pun kulakukan hanya karena ingin meghormatinya. kupercepat langkahku untuk mendahuluinya, aku tak mau syaitan mengotori kekagumanku saat berada di belakangnya. Setiap kali aku mengingatnya aku berdo’a.

“Ya Alloh ya Robb, engkau yang menyelipkan cinta ini di hati hamba, namun hamba tak pernah ingin menjadikannya pacar hamba, hamba hanya ingin dia halal untuk hamba”

Pesta-NYA

Udara ini terasa berbeda, tak seperti biasanya, terasa begitu nyaman jauh dari dinginnya keangkuhan, jauh dari pengapnya kesombongan, begitu hening, menentramkan setiap sendi-sendi yang biasanya berbalut kejenuhan.

Kutelusuri aliran udara ini. Kuhirup sepuasnya, sambil terus berjalan, mencari apa yang sebenarnya membuat udara ini berbeda.
Di  sela-sela kenikmatan ini, kutengadahkan kepalaku dengan memejamkan mata, dan akhirnya, saat ku membuka mata, kutemukan apa yang membuat malam ini terasa berbeda. Langit itu, iya langit di atas sana sedang berpesta. Bintang-bintang yang tak seperti biasanya, lebih banyak dari biasanya, lebih terang dari biasanya, bahkan ada yang berlari-larian, persis seperti puluhan anak kecil yang sedang bermain kejar- kejaran. Planet Venus yang biasanya jarang menampakkan cahaya putihnya, bersinar terang tak mau kalah dengan bintang-bintang.
Planet Mars yang biasanya terlihat samar, tak ragu menyala dengan bangga dalam balutan warna kuning keemasan miliknya.
Langit begitu terang, menyambut alunan tasbih yang  menggema dari sudut-sudut bumi yang  berseru memuji untuk-NYA.

Tak akan ada yang percaya dengan apa yang kulihat ini,  tapi aku benar-benar melihatnya, seperti sedang ada perayaan besar, sebuah perayaan pengantin semesta yang takkan pernah aku lupakan, sebuah perayaan di sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, yang kusaksikan di tengah-tengah luasnya halaman sekolahku, belasan tahun yang lalu. Saat aku belum mampu mengerti, dan melukiskannya dengan kata-kata. Hanya bisa terdiam, terpana, dan menikmati pesta-NYA, yang entah kapan aku bisa kembali melihatnya.

Sabtu, 06 Maret 2010

Aku Bisa Lebih... (episod 2)

Aku mengamati satu persatu wajah di sekelilingku, tak satupun s
Aku mengamati satu persatu wajah di sekelilingku, tak satupun siswa yang aku kenali, yang memeng sebenarnya hanya aku dan dua teman yang keduanya adalah perempuan, yang dulu satu sekolah, aku menunggu salah satu dari mereka mungkin akan satu kelas denganku, sementara siswa-siswa yang lain asik ngobrol dengan teman sebangkunya yang kurasa mereka memang sudah kenal sebelumnya, itu terlihat betapa akrabnya mereka. Setelah beberapa lama aku memperhatikan bangku-bangku di sekelilingku hanya tinggal bangku di sampingku yang masih kosong, berarti hanya tinggal satu orang saja yang akan bergabung di kelas ini.
“Semoga salah satu dari mereka berdua yang akan masuk ke sini.” Aku berharap dalam hati.
Tak bisa kumbayangkan apabila tak satu pun dari teman sekelasku ini yang ku kenal, mungkin akan terasa berat hari-hari yang akan ku jalani berikutnya.
Aku masih menunggu dan berharap temanku yang akan datang, sampai aku melihat seseorang berjalan ke arah pintu kelas ini.
“Permisi, apa ini kelas 1.1?”
Semua siswa terdiam memandang ke arah pintu kelas, tak satupun suara yang terdengar begitu juga dengan aku, yang sedikit kecewa, karena ternyata orang yang terakhir bergabung di kelas ini bukanlah teman sekolahku dulu.

“Hello…. Permisi !!”Tanya anak itu lagi, karena tak satupun dari kami yang menjawab.
“Oh iya benar..” Seorang siswa yang tempat duduknya berada paling dekat dengan pintu menjawab dengan sedikit terkaget, Begitu juga dengan semua orang yang berada di kelas ini setelah beberapa detik yang lalu mereka terdiam, kini mereka saling pandang dengan teman di dekatnya dengan sedikit menahan tawa yang kulihat jelas di wajah mereka.

Rambut klimis yang disisir rapi. Dengan kemeja yang kancing bajunya terpasang lengkap tanpa menyisakan satupun meski di bagian atas, kulit yang sedikit lebih hitam dari kami semua, sedang berdiri dengan senyum lebar yang membuat siapapun pasti akan tertawa melihat penampilannya. “Erik Setiawan Diwangga” Seorang anak yang mempunyai imajenasi dan percaya diri tingkat tinggi, yang tak pernah mau tau dengan apa yang orang lain fikirkan tentang dirinya, tentang penampilannya bahkan pemikiran pemikirannya. Dialah sahabat pertamaku, dan dia juga yang selalu biasa membuat semangat dan percaya diriku kembali.
“Hay, Erik Setiawan Diwangga.” Dia langsung memperkenalkan dirinya padaku setelah meletakkan tas di atas meja.
“Satria” akupun memperkenalkan diriku dengan menjabat tangannya. Tapi dia tetap saja memegangi tanganku dan tak mau melepasnya
“Satria” Aku mengulangi menyebutkan namaku, tapi tetapsaja dia tak mau melepaskan pegangannya.
“Erik setiawan diwangga” Dia menyebutkan namanya kembali dengan menggoyang-goyangkan tanganku yang membuat aku mengerti apa maksudnya.
“Satria Wibawa”
“Nah itu baru betul, kita harus bangga dengan nama yang di sematkan pada kita, ya meskipun aku tak tahu apa arti namaku sendiri he...he..he..”
Itulah Erik, lucu, menyenangkan tapi juga jenius. Mengapa aku menyebutnya jenius, itu karena kami pernah merancang sebuah kereta api saat pelajara fisika, kereta api yang bisa terselamatkan saat bertabrakan dengan sebuah pesawat terbang, itulah masalah yang guru fisika kami berikan untuk kami pecahkan, dan apa hasilnya, sebuah ide lucu, kreatif,dan juga genius yang menjadi perdebatan panjang di kelas kami, sebuah ide yang tak perlu kujelaskan lebih rinci, karena akan malah membuat kalian tertawa.
………………………………

Aku berjalan pelan tanpa semangat memegangi buku bersampul biru tua yang baru saja di berikan oleh ayahku tanpa ekspresi sedikitpun, buku yang bertuliskan Raport di atasnya den tertulis jelas Satria Wibawa di bawahnya. “21”(duapuluh satu), itulah nomor urut otakku di kelas ini, sebuah angka yang sama sekali tak bisa di banggakan.
“Apa yang sudah aku lakukan” aku bertanya dalam hati
Tega sekali aku menyakiti hati orang tuaku, anak macam apa aku ini yang menghancurkan harapan orang tuanya dengan memberikan angka 21, angka yang jauh sekali dari angka yang ku persembahkan pada mereka sebelumnya. Angka “1” (satu) yang sering kuberikan saat Madrasah Ibtida’iyah (MI), dan lima besar yang ku persembahkan untuk mereka.saat di Madrasah Tsanawiyah (MTS).
“Sama, sama seperti dulu kini pun aku harus bias melewatinya.”
Aku pernah mengalami ini sebelumnya, saat semester pertamaku di Madrasah Tsanawiyah (MTS), aku mendapat angka 7 (tujuh) di raportku, angka yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, aku bertekat untuk kembali ke tahtaku, setidaknya masuk 3(tiga) besarlah minimal. Dan akhirnya usahaku tak sia-sia. Dan kini akupun harus melakukan hal yang sama pada diriku
“Aku harus melompati setidaknya 10 (sepuluh) kepala semester depan”
Itulah yang kuikat, kupaku dan kutanamkan dalam otakku
Dan akhirnya perjuanganku sampai pada akhir waktunya, apakah semua usahaku ini benar-benar menghasilkan.

To be continue……………



Jumat, 22 Januari 2010

Aku bisa lebih..(part 1)

"Satria Wibawa putra dari bapak Aji Santoso". Aku berdiri dari tempat duduk dan menuju podium, dengan toga yang ku kenakan aku melangkah dengan mantap.
hari ini adalah hari wisuda di sekolahku, aku senang sekali karena dari sekian banyak siswa yang tidak lulus, aku bukanlah bagian dari mereka, tapi aku menjadi bagian dari siswa yang mendapat kehormatan menaiki podium untuk di sematkan tanda kelulusan.
Aku kenbali ketempat dudukku, jabatan tangan dan pelukan dari teman-teman menghentikanku berkali-kali. Aku senang sekali hari ini karena akhirnya aku lulus.

"Senang sekali.." pikirku dalam hati.
sebenarnya tidak tepat bila aku menggunakan kata "Senang sekali", mungkin lebih tepatnya hanya "Senang...". karena ada hal yang mengganjal di hatiku.

"Poko'e iso lulus, pokoknya bisa lulus"
Itulah niatku sebelm ujian, niatku saat awal semester genap, niatku awal semester satu, atau bahkan tanpa sadar aku telah menanamkan niat itu saat pertama masuk sekolah ini. Sebuah niat yang ku pikir-pikir cukup memalukan, menggelikan. Niat seorang pengecut yang kalah sebelum berperang.

Kalian akan tahu mengapa niat itu ku anggap memalukan.

-----------------

"Satria Wibawa" suara kepalasekolah dari pengeras suara.
aku langsung lari ke tangga dan mencari ruang kelas yang bertuliskan kelas 1.1
hari ini adalah hari pertamaku di Madrasah aliyah ini, dan hari ini pula kepala sekolah mengumumkan pembagian kelas. Aku mendapatkan kursi di sebuah kelas yang katanya adalah kelas favorit karena akan di isi oleh anak-anak berprestasi di sekolah mereka sebelumnya. Aku menemukannya, di ujung lorong lantai dua ini, kelas yang akan mengawali ceritaku, mengawali kebodohanku, mengawali kekalahanku melawan diriku sendiri.....

to be continue........

Selasa, 20 Oktober 2009

Plakkk....... I love you to....

"Yang ini namanya sendi !!"

Aku kaget seketika, gara-gara ada yang menepuk pundakku dari belakang, waktu aku sedang duduk santai di depan rumah. yang membuat aku seketika melompat dari bangku.

"Eh mas Ega, ngagetin aja," tanyaku dengan nafas yang masih putus-putus.
"Kaget ya, maaf gak sengaja."
"Baru pulang mas? dari mana?"
"Ini dari jemput sepupu ku."

Aku melihat seorang gadis di samping mas Ega, tetangga sebelahku. Gadis itu tersenyum manis kepadaku yang membuat aku tanpa sengaja jatuh dalam lamunan, dan tanpa sadar aku berkata
"Manis.. cantik...."
"Apa ?" mas Ega bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, yang membuat aku tersadar dari lamunuanku.
"Nggak... gak koq mas !!" elakku dengan sedikit gugup.
"Oh sepupu mas ya?" tanya ku untuk mengalihkan perhatian.
Mas Ega mengangguk, lalu berjalan ke arah rumahnya yang berada di sebelah rumah ku, sedangkan aku masih terpana dengan sosok yang baru saja ku lihat, yang kukira adalah bidadari dari surga.Bukan hanya itu tapi aku merasa tak asing dengan wajah itu, dengan senyum itu mungkin aku pernah bertemu dengannya entah dimana, atau bahkan aku pernah mengenalnya.

"Ah mungkin hanya perasaanku saja." kataku dalam hati.

Aku memperhatikannya dengan detail, dari mulai gaya busananya, senyumannya, bahkan cara dia berjalan ku perhatikan baik-baik dengan mengerahkan seluruh kemampuan otakku untuk mengingatnya. Akhirnya aku menyerah, mungkin karena memori otakku sudah penuh barang kali, hingga aku tak bisa mengingatnya atau memang tidak pernah sama sekali masuk dalam file otakku.

"Tapi aku yakin pernah melihatnya."aku coba meyakinkan diri.

Aku terus memperhatikannya yang terus berjalan menjauhiku. Sampailah dia di pagar rumah yang nantinya akan dia tempati, yaitu rumah mas Ega. Dia membalikkan badannya sebelum masuk dan melambaikan senyumannya kepadaku, yang membuatku seketika menundukkan kepala karena takut dia tahu aku memperhatikannya sejak tadi.

........................................................................................

Keesokan harinya aku berpapasan dengannya, saat aku akan pergi ke rumah Awan sahabatku. Sepertinya dia akan pergi ke kampus. Dengan sekuat hati aku beranikan diri menyapanya dengan harapan bisa sedikit akrab dengannya.

"Hay..." sapaku dengan agak gugup. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.
"Mau kemana ?" aku mencoba menyapanya lagi.
"Mau ke kampus " jawabnya dengan menundukkan kepala.
"Sory, aku Sandi " dengan sedikit gugup ku perkenalkan nama ku.
"Sudah tahu, kan kemarin di kenalin sama mas Ega. "
"Oh iya.. ya..??!!." Aku langsung terdiam malu karena salah menggunakan jurus pertama mendekati cewek yang kubaca dari deretan buku yang ada di gramedia beberapa waktu lalu. sedangkan dia hanya terseyum seolah telah berhasil mengerjaiku. Aku tak berani bicara lagi dan hanya diam sejuta bahasa. Tapi sepertinya dia tahu aku yang salah tingkah dibuatnya. Dia pun akhirnya yang mencoba memulai pembicaraan.

"Aku Nisa, sepupu dari mas Ega" dia mengulurkan tangannya.
"Sudah tahu, kan kemarin di kenalin juga sama mas Ega."Aku tertawa dalam hati karen telah berhasil membalasnya, sadangkan dia memasang muka cemberut karena kecolongan dan berhasil kukerjai.

"Ha...ha..." tawaku dalam hati.
"Udah jangan cenberut, kan satu-satu sekornya."kataku dengan sedikit tertawa, sedangkan di masih memperthankan raut mukanya yang masam itu.
"Ayo naik, aku antar sampai depan komplek"
"Nggak." Jawabnya dengan sewot
"Udah jangan cerewet, cepetan naik."

Akhirnya nisa mau juga ku bonceng, ya walaupun kelihatan agak sedikit terpaksa.
Sampai juga akhirnya di depan komplek, dan saat aku menurunkannya aku terkejut melihat sebuah setiker yang tertenmpel di sampul bukunya. Sebuah almamater yang tidak lain adalah nama sekolah SMAku dulu. Aku menghubungkan semua ini, antara nama, almamaternya, semuanya. Aku mencoba mengingatnya lagi, memeras otakku sekuat tenaga. Aku tetap di atas motorku tak beranjak sedikitpun sedangkan dia sudah hilang bersama taksi yang di naikinya. Akhirnya sekarang aku tau apa yang belakangan ini mengganjal dihatiku setiap kali melihat sosok Annisa. Dia adalah satu-satunya wanita yang dapat menembus dinding hatiku, dan dia adalah seseorang yang dengan susuh payah aku lupakan, Anissatussolihah.

.................................................................

"Lihat apa kamu, koq seris bange?t" tanya Andri mengagetkanku sambil senyum-senyum.
"Eh sialan lhu, ganggu orang aja".
"lagian kamu siang bolong kok ngelamun,emang lagi ngeliatin siapa sih".
"kamu tau nggak siapa dia" tanyaku sambil menunjuk ke seseorang yang berada di lantai dua bangunan sebelah kelasku.
"kalau kamu tanya cewek sama aku sama aja bohong, kalau tanya cewek ya sama awan tuh".
aku terus memendangnya dengan kagum sosok yang cantik, anggun, sopan, ramah dan dia selalu menunduk saat perpapasan denganku.

......................................................

Hari berganti hari namun aku tetepsaja tidak bisa menghapus bayangannya dari fikiranku. Akhirnya aku semakin penasaran dan pergi mencari awan. Setelah aku bertanya-tanya akhirnya ku temukan juga awan yang sedang serius membaca buku di dalam perpustakaan
"Wan kamu tau ngak siapa dia ?" tunjukku lagi ke bangunan sebelah yang kebetulan dia juga ada di depan kelasnya.
"Kenapa, kamu suka sama dia." tanya awan dengan cuek.
"cantik, berjilbab, sopan, siapa yang ngak suka sama cewek seperti itu" jawabku.
"Jangan mimpi kamu, tau nggak siapa dia? "
"Yaitu makanya aku tanyak ke kamu karena aku nggak tau" jawab ku dengan kesal karena di buat penasaran.
"Namanya ning nisa ! kamu tau apa artinya ning ?" aku menggeleng karena belum mengerti dengan maksud awan.
"Artinya dia itu anak seorang kyai, ki........ya......i......." jelas awan dengan menekankan kata kyai.

..........................................................

Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berfikir untuk mendekatinya, memikirkannya, dan mulai melupakannya. Walau pun itu akan sulit. Karena baru kali ini ada seorang wanita yang membuatku begitu ingin tahu dan mengenalnya. Bukan hanya karena hal itu saja aku tak ingin memikirkannya lebih jauh lagi, tapi karena aku yang sudah kelas tiga, dan ujian kelulusan sudah semakin dekat . Aku tidak mau membagi konsentrasiku dengan hal lain selain ujin akhir sekolah. Akupun mulai bisa melupakannya karena kesibukan belajarku yang padat dengan berbagai les privat yang ku ikuti dan itu sangat membantu untuk menghapusnya dari fikiranku. Beberapa waktu setelah itu aku tahu bahwa sebenarnya aku hanya di kerjai oleh awan yang hanya mengatakannya dengan niat bercanda, dan jengkel karena aku mengganggu konsentrasi belajarnya saat aku bertanya. Sedangkan aku menanggapinya dengan serius. Tapi aku sudah terlanjur mencurahkan seluruh perhatianku untuk menghadapi ujian nasional yang hanya tinggal beberapa hari lagi.


........................................................................


Sudah enam bulan lebih sejak saat pertemuan kami yang pertama, kamipun mulai akrab dan semakin akrab. Bisa di bilang sahabat baiklah. Kemana-mana selalu berdua. kalo lagi BT pasti langsung kabur kerumahku dan curhatlah dia kepadaku. Tapi aku tak memberi tahunya tentang perasaanku ini, dan aku tak ingin dia tahu. tapi lambat laun perasaan cinta yang pernah kulupakan mulai tumbuh lagi seiring kebersamaan kita. Makin hari makin bertambah bahkan melebihi cintaku saat masih di sekolah dulu. Hingga sesutu terjadi yang membuat cinta yang telah begitu lama ku pendam keluar dari persembunyiannya. Dan aku tak dapat mengelak lagi darinya.

"Eh mas Ega, udah lama nunggunya. Tadi ada kecelakaan jadi macet jalannya."
Tapi mas Ega tetap diam dan tak bicara sepatah kata pun yang membuat aku merasa tidak enak hati karena telah ada janji dengannya satu jam yang lalu.

Maafkanlah aku.....
Karena mencintaimu tanpa kau tahu
Maafkanlah aku.....
Karena manyayangimu tanpa ragu
Maafkanlah aku.....
Karena menikmati kacantikan hatimu tanpa izinmu
Maafkanlah aku.....
Karena tak bisa menghilangkan bayanganmu
Maafkanlah aku.....
Karena hati ini takdapat mengatakannya padamu
Maafkanlah aku....
Karena aku tak ingin dosa ada dihatiku
Maafkanlah aku....
Karena aku ingin cinta ini tetap suci
Karena jika saat aku telah mampu
Aku akan ada di hadapan mu

to my love
Annisatussolihah

Aku tersentak dengan sebuah puisa yang di baca mas ega, yang tidak lain adalah puisiku. dan aku berbalik dengan sedikit gugup dan kulihat mas ega memegang sebuah album foto, sebuah rahasia hati.yang tak seorang pun pernah mengetahuinya.


"Sejak kapan kamu suka sama annisa."

Aku tetap terdiam tak dapat menjawab pertanyaannya.
"Ha....ha...." suara tawa mas ega mengagetkan aku, sekaligus melegakanku yang sedari tadi hanya terdiam.
"Biasa aja, gak usah ketakutan seperti itu"
"Ha...ha..." tawa mas ega makin kencang.
"Emang kamu bener-bener suka sama annisa?"
"yang bener ?"
"sejak kapan?"

Mas Ega memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat aku jawab, dan akhirnya setelah di desaknya aku menceritakan semuanya pada mas Ega dari awal pertama aku bertemu dengan annisa sampai aku bertemu kembali dengannya. Mas Ega hanya manggut-manggut saja dengan sedikit tawa meledek. Aku pun menghentikan ceritaku karena ledekannya.
"Dikiranya aku lagi ngelawak apa." kataku dalam hati.
Mas ega pun menghentikan tingkahnya yang membuat aku jengkel.
"iya..iya... terusin dong ceritanya."

.......................................................


"Itu lah mas, sebenarnya aku sudah lama suka sama annisa"
"lha terus kenapa gak ngomong."
"Takut mas, nanti dia malah marah."
"Aku nggak mau menghancurkan persahabatan kami"

Deg... pembuluh darah di jantungku serasa mau pacah, pesawat boing 737 separti mendarat darurat di atas kepalaku. saat ku lihat seseorang berdiri di depan pintu kamar ku dengan air menetes di sela-sela matanya. Aku pun sontak langsung berdiri memendangnya dengan perasaan tidak karuan, takut semua akan ber akhir di sini. dia berjalan perlahan ke arah ku dan membuat aku semakin ketakutan. sedangkan aku hanya menundukkan kepala, serasa bongkahan batu besar menindih kepalaku yang membuat aku tak kuasa untuk menatap wajahnya.
"Maaf kan aku nisa... maafkan a...."

Plakkk....

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri ku. Membuat aku tersentak karna tak menyangka akan mendapat sebuah tamparan dari sahabatku, sekaligus cintaku pertamaku.

"Kenapa kamu lakukan ini padaku." teriak annisa dengan sedikit isak tangis yang masih tersisa.
"Aku pikir kau adalah sahabatku, sahabat yang baik takkan pernah membohongi sahabatnya sendiri."
"Tapi apa yang kamu lakukan kepadaku, kau bohong, semuanya bohong, selama ini kau bohong."
Aku hanya terdiam karena tak mampu mengatakan apa-apa.
"Sejak kapan kau cinta padaku ?" tanyanya dengan nada sedikit merendah, sehingga aku mulai sedikit berani menjawabnya.
"Sejak pertama aku melihat kamu di sekolah kita dulu." jawabku dengan tetap menundukkan kepala.
"Tapi kenapa kau tak mengatakannya padaku"
"Aku... aku... takut kehilangan mu..!!"
"Aku takut kau marah padaku,"
"Aku......"

Plakkkk.....


"Dari mana kau tahu kalau aku akan marah." tanya anisa setelah menamparku untuk yang kedua kalinya.



"I love you to..."

21 oktober 2009
12:41